Refleksi Krisis Adab di Era Media Sosial
Oleh: A’thaillah, S.HI., M.H
Penyuluh Agama Islam Meurah Mulia
Di era ketika satu klik bisa menjangkau ribuan orang, media sosial telah menjelma menjadi ruang publik baru. Di sana, setiap orang bebas berbicara, berpendapat, bahkan menghakimi. Namun di balik kebebasan itu, muncul fenomena yang patut kita renungkan bersama: ulama kian mudah dihujat. Ini bukan lagi soal perbedaan pendapat. Bukan pula kritik ilmiah yang sehat. Yang terjadi hari ini jauh melampaui itu—cemoohan, penghinaan, hingga fitnah disebarkan tanpa rasa bersalah.
Potongan ceramah dipelintir.
Kata-kata dicabut dari konteks.
Komentar kasar dilempar tanpa adab.
Dan yang lebih mengusik, fenomena ini juga terasa di Aceh—tanah yang selama ini dikenal menjunjung tinggi syariat dan memuliakan ulama.
Lalu, apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan adab kita?
Islam menempatkan ulama pada posisi yang sangat mulia. Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)
Rasulullah SAW juga bersabda:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Maka ketika ulama direndahkan, yang sesungguhnya ikut runtuh adalah wibawa ilmu agama itu sendiri.
Perlu ditegaskan:
kritik terhadap ulama bukanlah hal yang terlarang.
Dalam tradisi Islam, perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah. Para imam mazhab pun berbeda dalam banyak persoalan.
Namun, kritik dalam Islam selalu memiliki fondasi:
ilmu, adab, dan niat meluruskan—bukan merendahkan.
Yang kita saksikan hari ini justru sebaliknya. Kritik kehilangan adab, berubah menjadi serangan personal yang dangkal dan emosional.
Ini bukan lagi dinamika intelektual.
Ini adalah tanda krisis adab.
Di Aceh, ironi ini terasa semakin nyata.
Di satu sisi, ulama menjadi sasaran komentar sinis di media sosial—khususnya di platform seperti TikTok. Ceramah dipotong, makna disederhanakan, lalu dijadikan bahan ejekan.
Namun di sisi lain, konten yang jelas bertentangan dengan nilai syariat justru tumbuh subur:
- Joget membuka aurat
- Gaya hidup hedonistik
- Konten sensasional demi viral
- Perilaku yang menjauh dari akhlak Islami
Ironisnya, semua itu sering dianggap hiburan biasa.
Energi besar habis untuk menghujat ulama,
sementara kemaksiatan justru dinormalisasi.
Inilah paradoks zaman digital:
yang mengingatkan dianggap mengganggu,
yang melalaikan justru dirayakan.
Fenomena ini tidak terjadi tanpa sebab.
Ada beberapa akar persoalan yang perlu kita sadari:
Pertama, rendahnya literasi keagamaan.
Potongan video singkat dianggap cukup untuk memahami agama, lalu dengan percaya diri menghakimi.
Kedua, budaya viral.
Serangan terhadap tokoh agama lebih cepat menarik perhatian dibandingkan nasihat yang menyejukkan.
Ketiga, anonimitas media sosial.
Orang merasa bebas berkata kasar karena merasa “tidak terlihat”.
Keempat, lunturnya adab terhadap guru dan ulama.
Padahal, dalam khazanah Islam, keberkahan ilmu sangat terkait dengan adab.
Imam Malik رحمه الله pernah menegaskan bahwa adab dipelajari sebelum ilmu.
Karena ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan.
Jika fenomena ini terus dibiarkan, dampaknya tidak kecil.
- Kepercayaan masyarakat terhadap ulama akan melemah
- Umat kehilangan rujukan yang jelas
- Perpecahan mudah terjadi
- Generasi muda tumbuh tanpa rasa hormat kepada ilmu
Dan yang paling mengkhawatirkan:
merendahkan ulama dianggap hal biasa.
Apakah ini wajah masa depan yang kita inginkan untuk Aceh?
Sudah saatnya semua pihak mengambil peran.
Keluarga harus menanamkan adab digital sejak dini.
Pendidikan harus menguatkan akhlak, bukan hanya pengetahuan.
Ulama perlu hadir di ruang digital dengan pendekatan yang bijak dan komunikatif.
Dan kita semua harus belajar membedakan:
mana kritik yang membangun,
mana hujatan yang merusak.
Allah SWT mengingatkan:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan ada malaikat yang mencatat.”
(QS. Qaf: 18)
Ayat ini bukan hanya untuk lisan,
tetapi juga untuk jari-jari yang mengetik di layar.
Pada akhirnya, kita perlu merenung:
Jika ulama terus dihina,
lalu kepada siapa umat akan bertanya tentang agamanya?
Menjaga kehormatan ulama bukan berarti menutup kritik.
Tetapi memastikan bahwa kritik tetap berada dalam bingkai ilmu dan adab.
Karena ketika adab hilang,
ilmu kehilangan cahaya.
Dan ketika cahaya itu padam,
umat berjalan dalam kegelapan.
Wallahu a’lam bishshawab.
— A’thaillah, S.HI., M.H
Penyuluh Agama Islam Meurah Mulia







Pencerahan yg sangat bermakna
Luar biasa topiknya menarik dan gaya bahasa mudah difahami,bestlah👍👍👍