Gerak IPARI dalam Revitalisasi Ekoteologi (Garda Religi)
Matangkuli, Aceh Utara — Senin, 6 Oktober 2025.
Dalam rangka memperkuat peran penyuluh agama sebagai pelopor perubahan sosial, spiritual, dan ekologis, Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Aceh Utara menyelenggarakan kegiatan memperingati maulid Nabi SAW bertajuk “Gerak IPARI dalam Revitalisasi Ekoteologi (Garda Religi)” yang dipusatkan di situs bersejarah Rumah Cut Mutia, Kecamatan Matangkuli. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan, kepedulian sosial, dan pelestarian lingkungan serta budaya lokal.
📜 Rangkaian Acara: Spirit Religi dan Ekologi dalam Bingkai Budaya
Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dengan pembukaan oleh MC Tgk. Zulfahmi yang membawakan suasana hangat dan tertib. Dilanjutkan dengan pembacaan Yasin dan doa samadiah yang dipimpin oleh Tgk. Taufik, penyuluh KUA Kecamatan Matangkuli, sebagai bentuk penghormatan kepada para syuhada dan tokoh pejuang Aceh, khususnya Cut Mutia.
Pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Tgk. Razali, penyuluh agama Islam Kecamatan Samudera, menghadirkan nuansa spiritual mendalam sebagai pembuka kegiatan.
Sambutan pertama disampaikan oleh Tgk. Fakhrizal, Lc selaku panitia pelaksana, yang menekankan pentingnya gerakan ekoteologi sebagai bentuk dakwah yang menyentuh aspek lingkungan dan sosial. Sambutan berikutnya dari Ketua PD IPARI Aceh Utara, M. Romli, S.H.I., M.S.I., menggarisbawahi peran penyuluh agama sebagai garda terdepan dalam membina umat dan menjaga warisan alam serta budaya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Utara, H. Fadli, S.Ag., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi terhadap PD IPARI Aceh Utara atas inisiatif kegiatan yang menyentuh berbagai dimensi kehidupan. Beliau menekankan bahwa kegiatan ini mencerminkan dakwah yang progresif, menyatu dengan nilai-nilai kemanusiaan dan pelestarian lingkungan. Beliau juga secara khusus mengapresiasi dua agenda utama: santunan sosial dan penanaman pohon sebagai bentuk nyata dari dakwah yang berkeadaban.
Ceramah agama disampaikan oleh Tgk. Mawardi, S.H., penyuluh agama Islam Kecamatan Tanah Luas, yang mengangkat tema “Maulid dan Sejarah: Spirit Nabi dalam Membangun Peradaban”. Dalam ceramahnya, beliau mengajak peserta untuk menjadikan momen Maulid sebagai refleksi spiritual dan sosial, serta meneladani Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat yang berkeadaban, peduli terhadap sesama, dan menjaga kelestarian alam.
Sebagai wujud nyata kepedulian sosial, acara dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada anak yatim dan penyandang disabilitas. Santunan diserahkan langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Aceh Utara H. Fadli, S.Ag., M.Si., bersama Kasi Bimas Islam Bapak Syukri, S.Ag. Momen ini menjadi simbol kasih sayang dan keberpihakan IPARI terhadap kelompok rentan dalam masyarakat, sekaligus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam dakwah.
Puncak kegiatan ditandai dengan aksi penanaman pohon oleh PD IPARI Aceh Utara sebagai simbol komitmen terhadap pelestarian lingkungan. Penanaman ini dilakukan di sekitar Rumah Cut Mutia, sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan sejarah dan upaya menjaga ekosistem lokal. Gerakan ini bukan sekadar aksi fisik, tetapi juga bentuk dakwah ekologis yang mengajak masyarakat untuk menjaga bumi sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab spiritual.
Penutup: Doa dan Kebersamaan
Acara ditutup dengan pembacaan doa oleh Tgk. M. Nur, dilanjutkan dengan makan bersama yang mempererat silaturahmi antara anggota IPARI dan masyarakat sekitar. Suasana penuh keakraban dan kebersamaan menjadi penanda bahwa gerakan Garda Religi bukan hanya tentang program, tetapi tentang membangun komunitas yang berlandaskan nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekologis
Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengintegrasikan dakwah, budaya, dan pelestarian lingkungan dalam satu gerakan yang utuh. IPARI Aceh Utara telah menunjukkan bahwa penyuluh agama bukan hanya pengajar, tetapi juga pelopor perubahan yang menyentuh hati, alam, dan peradaban.
Foto dokumentasi:



















