banner 728x250

HIDUP DI ANTARA KAPAN DAN KAIN KAFAN

  • Bagikan
banner 468x60

Ketika Manusia Terlalu Sibuk Mengejar Dunia dan Lupa Arah Pulang

Oleh: ATHAILLAH, S.HI., M.H
Penyuluh Agama Islam

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia semakin sibuk mengejar banyak hal. Ada yang mengejar jabatan, kekayaan, popularitas, bahkan pengakuan manusia. Waktu habis untuk bekerja, bersaing, dan membangun kehidupan dunia seolah-olah hidup akan berlangsung selamanya. Namun di balik semua kesibukan itu, ada satu kenyataan yang tidak pernah berubah sejak dahulu hingga hari ini: manusia hidup di antara kapan dan kain kafan.

Example 300x600

Kita lahir dibungkus kain. Kita mati pun dibungkus kain. Di antara dua kain itulah manusia menjalani seluruh perjalanan hidupnya.

Ironisnya, banyak manusia yang sangat memahami bagaimana cara mencari uang, tetapi tidak memahami bagaimana mempersiapkan kematian. Banyak yang sangat takut kehilangan harta, tetapi tidak takut kehilangan iman. Banyak yang gelisah ketika rekening berkurang, namun tetap tenang meski ibadah mulai hilang dari kehidupannya.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan dengan sangat jelas:

ูƒูู„ู‘ู ู†ูŽูู’ุณู ุฐูŽุงุฆูู‚ูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู

โ€œSetiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.โ€

(QS. Ali โ€˜Imran: 185)

Ayat ini bukan sekadar bacaan yang sering terdengar ketika ada musibah kematian. Ayat ini adalah peringatan bahwa seluruh manusia sedang berjalan menuju akhir hidupnya masing-masing. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindar dari kematian. Cepat atau lambat, semua akan kembali kepada Allah SWT.

Dunia yang Membius Manusia

Salah satu masalah terbesar manusia hari ini adalah terlalu mencintai dunia. Dunia berhasil membius hati banyak orang hingga lupa bahwa kehidupan ini hanyalah sementara. Ukuran kesuksesan sering kali hanya dilihat dari materi. Orang dipandang hebat karena rumahnya besar, kendaraannya mahal, atau jabatannya tinggi.

Akibatnya, manusia rela mengorbankan apa saja demi dunia. Ada yang meninggalkan shalat karena pekerjaan. Ada yang merusak hubungan keluarga demi ambisi. Bahkan ada yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekayaan.

Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan:

ูƒูู†ู’ ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽูƒูŽ ุบูŽุฑููŠุจูŒ ุฃูŽูˆู’ ุนูŽุงุจูุฑู ุณูŽุจููŠู„ู

โ€œJadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.โ€

(HR. Bukhari No. 6416)

Hadis ini menggambarkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah, bukan tempat tinggal selamanya. Seorang musafir tentu tidak akan membangun istana di tempat ia singgah sebentar. Namun manusia justru sering lupa bahwa hidup di dunia sangatlah singkat.

Hari demi hari berlalu begitu cepat. Masa muda berganti tua. Tubuh yang dahulu kuat perlahan melemah. Rambut yang hitam mulai memutih. Wajah yang segar mulai keriput. Semua itu adalah tanda bahwa manusia sedang berjalan menuju titik akhir kehidupannya.

Namun anehnya, semakin dekat dengan kematian, sebagian manusia justru semakin jauh dari Allah SWT.

Kafan Tidak Memiliki Kantong

Ada satu pelajaran besar dari kain kafan yang sering tidak disadari manusia: kafan tidak memiliki kantong.

Artinya, tidak ada satu pun harta yang dapat dibawa mati. Rumah mewah, kendaraan mahal, emas, tanah, jabatan, bahkan rekening yang penuh sekalipun akan ditinggalkan semuanya.

Ketika seseorang meninggal dunia, yang tersisa hanyalah nama dan amalnya.

Rasulullah SAW bersabda:

ูŠูŽุชู’ุจูŽุนู ุงู„ู’ู…ูŽูŠู‘ูุชูŽ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉูŒ: ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู ูˆูŽู…ูŽุงู„ูู‡ู ูˆูŽุนูŽู…ูŽู„ูู‡ูุŒ ููŽูŠูŽุฑู’ุฌูุนู ุงุซู’ู†ูŽุงู†ู ูˆูŽูŠูŽุจู’ู‚ูŽู‰ ูˆูŽุงุญูุฏูŒุŒ ูŠูŽุฑู’ุฌูุนู ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู ูˆูŽู…ูŽุงู„ูู‡ูุŒ ูˆูŽูŠูŽุจู’ู‚ูŽู‰ ุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู

โ€œAda tiga yang mengikuti mayit: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan kembali, sedangkan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.โ€

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini begitu dalam maknanya. Saat manusia diantar ke kubur, keluarga hanya sampai di pemakaman. Harta hanya tinggal menjadi warisan. Yang masuk ke liang lahat hanyalah amal perbuatan.

Karena itu, ukuran keberhasilan hidup dalam Islam bukanlah seberapa banyak dunia yang dikumpulkan, tetapi seberapa banyak amal yang dipersiapkan untuk akhirat.

Manusia Terlalu Yakin Akan Hari Esok

Kesalahan besar manusia lainnya adalah merasa masih memiliki waktu panjang. Banyak orang menunda taubat karena merasa masih muda. Menunda ibadah karena merasa nanti masih bisa berubah. Menunda memperbaiki diri karena merasa kematian masih jauh.

Padahal tidak ada seorang pun yang tahu kapan ajal datang.

Allah SWT berfirman:

ูˆูŽู…ูŽุง ุชูŽุฏู’ุฑููŠ ู†ูŽูู’ุณูŒ ุจูุฃูŽูŠู‘ู ุฃูŽุฑู’ุถู ุชูŽู…ููˆุชู

โ€œDan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati.โ€

(QS. Luqman: 34)

Kematian tidak selalu datang kepada orang tua. Tidak selalu kepada orang sakit. Setiap hari kita menyaksikan kabar duka dari berbagai usia dan keadaan. Ada yang pagi masih berbicara, sore sudah terbujur kaku. Ada yang baru merencanakan masa depan, namun ternyata ajal datang lebih dahulu.

Inilah sebabnya Islam mengajarkan agar manusia selalu siap menghadapi kematian.

Rasulullah SAW bersabda:

ุฃูŽูƒู’ุซูุฑููˆุง ุฐููƒู’ุฑูŽ ู‡ูŽุงุฐูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽุฐู‘ูŽุงุชู

โ€œPerbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.โ€

(HR. Tirmidzi)

Mengingat kematian bukan untuk membuat manusia takut hidup, melainkan agar manusia sadar bahwa hidup harus dijalani dengan benar.

Saatnya Memperbaiki Arah Hidup

Hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk mengejar dunia. Sebab pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada Allah SWT.

Yang akan menjadi cahaya di alam kubur bukanlah harta, tetapi shalat. Bukan jabatan, tetapi sedekah. Bukan popularitas, tetapi amal saleh dan keikhlasan.

Karena itu, selama napas masih ada, pintu taubat masih terbuka. Selama jantung masih berdetak, kesempatan memperbaiki diri masih tersedia.

Mulailah memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Jagalah shalat. Perbaiki akhlak. Hormati orang tua. Hindari menyakiti sesama. Gunakan lisan untuk kebaikan. Dan jangan menunggu tua untuk menjadi hamba yang taat.

Sebab kematian tidak menunggu seseorang menjadi siap.

Penutup

Pada akhirnya, manusia hanyalah musafir yang sedang berjalan menuju kampung akhirat. Dunia hanyalah persinggahan sementara. Tidak ada yang abadi selain Allah SWT.

Maka jangan terlalu sombong ketika memiliki dunia, dan jangan terlalu putus asa ketika kehilangan dunia. Karena seluruh perjalanan hidup ini pada akhirnya hanya akan berujung pada satu tempat: liang kubur.

Ketika kain kafan telah membungkus tubuh, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali memperbaiki diri.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mampu menggunakan hidup dengan sebaik-baiknya, memperbanyak amal saleh, dan dipanggil dalam keadaan husnul khatimah.

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุฎู’ุชูู…ู’ ู„ูŽู†ูŽุง ุจูุญูุณู’ู†ู ุงู„ู’ุฎูŽุงุชูู…ูŽุฉู

โ€œYa Allah, akhirilah hidup kami dengan husnul khatimah.โ€

Aamiin Ya Rabbal โ€˜Alamin.

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *